Seminar KONI Surabaya: Peran Nutrisi Otak dalam Meningkatkan Refleks & Konsentrasi

Dalam dunia olahraga kompetitif, fisik yang kuat saja tidak cukup jika tidak didukung oleh ketajaman mental. Atlet sering kali dihadapkan pada situasi di mana mereka harus mengambil keputusan dalam sepersekian detik, baik itu untuk menghindar dari lawan, mengatur strategi, atau mengeksekusi teknik yang sulit. Seminar yang diselenggarakan oleh KONI Surabaya menyoroti bahwa nutrisi otak memainkan peranan kunci dalam meningkatkan kemampuan refleks dan menjaga konsentrasi atlet tetap stabil selama pertandingan berlangsung.

Otak adalah organ yang paling aktif mengonsumsi energi, terutama saat seorang atlet berada di bawah tekanan kompetisi. Tanpa asupan bahan bakar yang tepat, fungsi kognitif, kecepatan transmisi sinyal saraf, dan kemampuan untuk fokus akan menurun secara drastis. Salah satu komponen nutrisi utama yang dibahas adalah asam lemak omega-3 yang banyak ditemukan pada ikan berlemak, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Lemak sehat ini berfungsi sebagai komponen pembangun membran sel saraf yang sangat penting untuk mempercepat komunikasi antar neuron, yang secara langsung berpengaruh pada kecepatan refleks atlet.

Selain omega-3, seminar ini juga membahas pentingnya hidrasi yang cukup untuk kesehatan fungsi otak. Bahkan tingkat dehidrasi yang ringan, sekitar 1% hingga 2% dari berat badan, dapat menyebabkan gangguan kognitif, kebingungan, dan hilangnya fokus. Atlet harus memahami bahwa otak yang terhidrasi dengan baik adalah otak yang mampu memproses informasi lebih cepat. Konsumsi air mineral dan minuman elektrolit secara terukur di sela-sela latihan adalah langkah sederhana namun sangat berdampak pada stabilitas mental saat menghadapi lawan yang tangguh di arena.

Nutrisi Otak lain yang tidak boleh dilewatkan adalah antioksidan yang bersumber dari buah-buahan seperti bluberi, stroberi, dan sayuran berwarna gelap. Antioksidan bekerja dengan melindungi sel-sel otak dari kerusakan akibat stres oksidatif yang dihasilkan saat tubuh melakukan aktivitas fisik yang sangat intens. Ketika tubuh mengalami stres berat, otak akan memproduksi radikal bebas yang berpotensi merusak sel saraf. Dengan asupan antioksidan yang cukup, ketajaman konsentrasi atlet dapat dipertahankan meskipun pertandingan sudah berlangsung dalam waktu yang cukup lama atau dalam kondisi yang sangat melelahkan.