KONI Surabaya: Apa Benar Seleksi Atlet Sekarang Pakai Skor Digital?
Transformasi menuju sistem digital dalam dunia olahraga memang menjadi kebutuhan yang mendesak untuk menghindari praktik subjektivitas atau “titipan” yang selama ini sering menghantui proses seleksi konvensional. Melalui penggunaan skor digital, setiap aspek kemampuan atlet, mulai dari kecepatan, kekuatan fisik, daya tahan, hingga akurasi teknik, diukur menggunakan perangkat sensor dan aplikasi khusus yang meminimalisir kesalahan manusia (human error). Di Surabaya, implementasi ini mulai terlihat pada beberapa cabang olahraga unggulan seperti atletik, renang, dan bela diri. Data yang dihasilkan secara real-time memberikan gambaran yang jujur mengenai potensi seorang atlet tanpa adanya bias dari tim penguji.
Langkah yang diambil oleh otoritas olahraga di Surabaya ini patut diacungi jempol karena memberikan rasa adil bagi semua peserta seleksi. Dengan sistem digital, setiap calon atlet dapat melihat langsung hasil pencapaian mereka dan membandingkannya dengan standar minimal yang telah ditetapkan. Hal ini memacu semangat kompetisi yang sehat di antara para remaja. Mereka sadar bahwa untuk bisa masuk ke dalam tim inti kota, mereka tidak bisa hanya mengandalkan relasi atau keberuntungan, melainkan harus benar-benar memiliki performa yang tervalidasi oleh sistem data. Skor ini juga menjadi rekam jejak digital (digital footprint) yang berguna untuk memantau perkembangan atlet secara berkala dari tahun ke tahun.
Namun, penerapan teknologi dalam seleksi atlet tentu memiliki tantangan teknis tersendiri. Ketersediaan alat sensor yang mahal dan kebutuhan akan operator yang ahli di bidang data olahraga menjadi aspek yang harus dipenuhi oleh organisasi daerah. KONI di Surabaya kabarnya telah menjalin kerja sama dengan beberapa universitas dan pakar IT untuk mengembangkan perangkat lunak khusus yang sesuai dengan karakteristik setiap cabang olahraga. Perangkat ini tidak hanya mencatat angka, tetapi juga mampu melakukan analisis biomekanika sederhana untuk melihat apakah gerakan atlet sudah efisien atau masih berisiko menyebabkan cedera. Inilah yang membedakan Surabaya dengan daerah lain yang mungkin masih menggunakan metode manual.
Selain transparansi, sistem skor digital ini juga membantu tim pelatih dalam menyusun program latihan yang lebih spesifik atau personalized. Setelah proses seleksi selesai, data skor tersebut dianalisis untuk melihat di bagian mana seorang atlet memiliki kelemahan. Misalnya, jika seorang pelari memiliki kecepatan yang bagus namun skor daya tahannya rendah, maka program latihan berikutnya akan lebih fokus pada peningkatan stamina. Pendekatan berbasis sains ini membuat proses pembinaan menjadi jauh lebih efisien dan tepat sasaran. Surabaya ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan untuk pembinaan atlet benar-benar diberikan kepada mereka yang memiliki data potensi paling menjanjikan.
