Mengawali pertandingan dihari pertamanya, Selasa (7/10), cabang olahraga panahan yang berlangsung di lapangan Bela Negara ditandai dengan nomor recurve. Untuk putra menurunkan 4 atlet atas nama Aditya Wahyu, Yoke Rizaldi, Eko darmawan dan Rivaldi Ananda. Mereka menyelesaikan babak penyisihan dari pagi hingga pukul 12.00 WIB. Sedang final berlangsung pada sore hari. Dari keempat atlet yang diturunkan tersebut skor sementara masih belum ada yang masuk 3 besar, namun nilainya berhimpitan. Kecuali pemimpin sementara dari Bojonegoro yang pengumpulan nilainya tertinggi.
Cabang olahraga panjat tebing masih menyumbangkan satu medali perunggu bagi kontingen Surabaya. Medali tersebut disumbangkan oleh Laila Diana Elsa di nomor speed putri. Pada pertandingan perdana yang berlangsung Selasa siang (6/10) di Lapangan Rampal tersebut, Laila harus mengakui keunggulan Nanda Dea Cahyaningtyas dari Lamongan di babak semifinal dengan selisih waktu 5.83 detik.
Catatan yang diperoleh Laila adalah 37.67 detik, sedangkan Nanda 31.84. Medali emas diraih oleh Nanda, sedangkan medali perak diraih oleh Fifi Anggraini dari Sidoarjo. Sayangnya prestasi Laila di kategori speed tidak diikuti oleh atlet putra Surabaya. Danes Devrian dan Ameru Syaifudin yang menjadi wakil Surabaya harus terhenti langkahnya di perempat final.
Remaja kelahiran Surabaya 28 Desember 1991 ini boleh dibilang sebagai pebulutangkis potensial yang dimiliki Surabaya. Ini dibuktikan dengan torehan prestasinya baik di kejuaraan tingkat daerah, nasional bahkan internasional.
Ricky, begitu ia akrab disapa, merupakan pebulutangkis spesialisasi nomor ganda yakni ganda putra dan ganda campuran. Prestasi nasional yang pernah diraih oleh putra pasangan Bambang Adiwiyono dan Maria Runiati ini di antaranya menjuarai kejuaraan bulutangkis Sirkuit Nasional di Bandung dan Sirkuit Nasional di Bali pada tahun 2009 lalu.
Kedua gelar tersebut dia raih melalui ganda putra berpasangan rekan satu klubnya, I Komang Sandy dan ganda campuran berpasangan dengan Devi Tika dari Mutiara Bandung.
Remaja yang tahun ini baru akan memasuki usia 19 tahun tersebut, mengaku bahwa dirinya mengenal bulutangkis sejak umur 6 tahun. Waktu itu ia diajak ayahnya yang juga mencintai olahraga ini bermain di klub Djarum Surabaya. Saat itu juga dia langsung tertarik untuk mencoba ikut bermain bulutangkis dan kemudian berlatih di klub Djarum Surabaya.
Dua tahun berselang, dia masuk dan mulai serius menekuni olahraga bulutangkis di klub Hi-Qua WIMA di bawah asuhan Ferry Stewart dan Felix Antonius hingga saat ini. Bakat dan prestasinya di bulutangkis yang cukup baik, membuat pelatih menyarankan dia untuk mengikuti tes di Singapura.
Setelah dinyatakan lolos seleksi ia dipercaya menjadi tim di Pelatnas Singapura saat usianya 14 tahun. Selama menjadi atlet Pelatnas di Singapura, ia banyak menorehkan prestasi gemilang di nomor spesialisasinya ganda putra. Salah satu di antaranya, menjuarai Australia Challenge pada tahun 2007 bersama pasangan gandanya, Chayut.
Tahun 2008 dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan berlatih lagi di klub yang membesarkannya, Hi-Qua WIMA. Naturalisasi menjadi warga negara Singapura yang membuatnya memutuskan untuk tidak lagi membawa nama Singapura di berbagai kejuaraan.
Lepas dari Pelatnas Singapura, tidak membuatnya patah arang untuk terus berprestasi. Pada tahun 2009 lalu, ia berhasil meraih gelar juara bersama Devi Tika (Mutiara Bandung) lewat nomor ganda campuran dalam kejuaraan Indonesia Challenge yang berlangsung di Jakarta pada 3 – 8 Agustus 2009. Pada Singapore Challenge 2009, ia bersama I Komang Sandy behasil meraih medali perunggu di nomor ganda putra. Ia juga terpilih menjadi tim puslatda bulutangkis Jatim untuk PON 2012 di Riau.
Selain itu, remaja rendah hati yang bercita-cita menjadi pebulutangkis top dunia ini terpilih untuk membawa nama Jawa Timur dalam ajang Kejuaraan Nasional (kejurnas) 2009 yang berlangsung pada 26 – 30 Januari lalu.
Berpasangan dengan salah satu ganda putra terbaik Indonesia Alvent Yulianto, dia meraih medali perunggu. Di babak semifinal kejurnas Dia dan Alvent bertemu dengan ganda putra peringkat dua dunia (versi BWF) dan peraih medali emas Olimpiade Beijing, Markis Kido/Hendra Setiawan. Meski harus kalah dalam pertandingan straight set 17 - 21 dan 21 – 23, namun perlawanan yang dia bersama seniornya Alvent tunjukkan layaknya pebulutangkis tingkat dunia.
Kenny Dion Alim lahir 18 Juli 2001, merupakan atlet cilik berprestasi binaan Puslatcab Sepatu Roda Surabaya juara dalam perlombaan sepatu roda Piala KONI VI yang digelar di pangan Kodam V Brawijaya.. Ia berhasil mendapat juara dinomor 500 m dan 5000 m speed.
Sebelumnya pada kejuaraan yang sama di tahun 2008 lalu, Dion begitu panggilan akrabnya, juga membawa dua medali emas di nomor yang sama 500 m dan 5000 m putra. Prestasi ini cukup mengagumkan mengingat dirinya baru berumur delapan tahun empat bulan.
Prestasi putra ketiga dari tiga bersaudara ini memang perlu mendapat perhatian dan apresiasi, mengingat ia merupakan telenta cilik yang merupakan produk dari program pusat latihan cabang olahraga yang digalakkan KONI Surabaya selama enam tahun belakangan ini.